UPT. Al-Islam & Kemuhammadiyahan Universitas Muhammadiyah Pontianak

Amalan Terbaik Bekerja Keras dan Bekerja Cerdas

Al quran dan sunah Nabi SAW telah mengajarkan berbagai macam amal kebajikan sebagai bentuk ibadah seorang hamba kepada Allah untuk memperoleh surga-Nya. Dalam Alquran terdapat banyak ayat yang menjelaskan jenis kebajikan.
“Kebajikan itu bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat, melainkan kebajikan itu adalah orang yang beriman kepada Allah, hari kiamat, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi, memberikan harta yang dicintainya kepada kerabat, anak yatim, orang-orang miskin, musafir, peminta-minta, dan memerdekakan hamba sahaya, orang yang melaksanakan shalat dan menunaikan zakat, orang-orang yang menunaikan janjinya, serta orang-orang yang sabar ketika dalam kemelaratan, penderitaan, dan peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar dan bertakwa.” (QS Al-Baqarah [2]:177).
Dalam masalah tingkatan iman, Nabi SAW membaginya pada lebih dari 70 cabang. Cabang yang paling tinggi adalah kalimat tauhid la ilaha illallah (tidak ada Tuhan kecuali Allah). Sedangkan, cabang iman yang paling rendah adalah membuang duri atau rintangan di jalan.
(HR Jamaah dari Abu Hurairah).
Demikianlah Alquran dan sunah Nabi SAW yang banyak menjelaskan macam-macam amal ibadah dengan kedudukan dan keutamaan yang berbeda-beda. Ada yang wajib, sunah, yang asas, dan yang cabang. Selain itu, ada pula yang berfungsi sebagai rukun dan syarat sah ibadah, ada juga yang lebih tinggi kedudukannya dari ibadah yang lain.
Berkaitan dengan ini, para sahabat sering bertanya kepada Rasul SAW tentang amalan yang paling utama dan dianjurkan dalam Islam. Misalnya, pertanyaan Abdullah bin Mas’ud RA tentang amalan yang paling disukai Allah. Rasul menjawab, “Shalat pada waktunya, berbuat baik kepada ibu bapak, dan jihad di jalan Allah.” (HR Bukhari dan Muslim).
“Maukah aku ingatkan kalian dengan suatu amalan yang paling baik; amalan yang paling suci pada apa yang kalian miliki, paling tinggi derajatnya; lebih baik dan utama bagi kamu sekalian daripada menginfakkan emas; lebih baik bagi kamu sekalian daripada kalian berhadap-hadapan dengan musuh, kalian pukul lehernya dan mereka pun memukul leher kalian?” Para sahabat menjawab, “Tentu kami mau, ya Rasulullah.” Lalu Nabi bersabda, "Mengingat Allah.” (HR Tirmidzi).
Jika disimpulkan, perbuatan yang dapat digolongkan dalam amalan paling super adalah mengucapkan kalimat tauhid, menjaga rukun iman dan Islam, berzikir (mengingat Allah), bersedekah dengan harta yang dicintainya, shalat pada waktunya, berbuat baik kepada orang tua, dan berjihad di jalan Allah (dengan maknanya yang sangat luas).
Di samping itu, masih ada amal perbuatan yang patut digolongkan dalam amalan yang paling super (terbaik), yaitu menciptakan kedamaian.
Namun Allah SWT juga  memberi perumpamaan tentang bekerja keras dan bekerja cerdas, yaitu bekerja dengan giat, sungguh-sungguh, selektif hanya terbatas pada hal-hal yang baik, menghasilkan sesuatu yang baik, berguna atau membawa kemaslahatan, dan bekerja dengan network yang sangat rapih, bersinergi, sesuai dengan tugas dan fungsinya masing-masing. Kesemua perumpamaan itu terdapat pada lebah.QS. An Nahl : 69
Dengan demikian prinsip-prinsip bekerja keras dan bekerja cerdas, diantaranya :
1.  Bekerja dengan giat, sungguh–sungguh, dan
     tidak menyia-nyiakan waktu.
Dalam bekerja, sungguh lebah telah bekerja   secara    perfek.   Disamping   itu Allah sangat memperhitungkan waktu,  Allah “bermain” dengan menit-menit dan detik, semua dalam hisab-Nya. Contoh dalam perintah shalat dan puasa. Puasa kita akan batal jika kita sengaja mendahului buka puasa, walau hanya kurang satu menit. Dalam shalat telah ada waktu yang ditetapkan.
Diperintahkan pula untuk segera bekerja setelah menunaikan shalat. QS. Al-Jumu’ah : 10
“Apabila telah ditunaikan shalat, Maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung.”
Disamping itu Allah tidak melihat hasil, tetapi melihat apa yang kita usahakan. Tetapi sebagai hamba berakal, hasil dilihatnya hanya sebagai bahan evaluasi. QS. An Najm : 39
“Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya.”
Sebagai muslim sebenarnya segala sesuatu itu baik, tidak ada ruginya bila segala usahanya telah diusahakan dengan sungguh-sungguh dan diniatkan karena Allah. Misal, seseorang yang berusaha dagang karena Allah, dia membawa dagangannya ke suatu tempat yang diperkirakan akan ada orang yang membutuhkannya. Baru niat berusaha saja dia sudah memperoleh satu poin pahala. Dilanjutkan dengan usaha membawa dagangannya satu poin pahala lagi. Apalagi bila ditambah dengan usaha sungguh-sungguh dengan mempelajari dan menerapkan ilmu-ilmu dagang, maka akan tambah poin pahala lagi. Perkara untung ruginya tinggal memasrahkan kepada Allah pemberi rezeki. Dan masih banyak contoh-contoh yang lain dalam kehidupan sehari-hari.
2.  Bekerja sesuai spesialisasi.
QS. Az Zumar : 39
“Katakanlah: "Hai kaumku, bekerjalah sesuai dengan keadaanmu, sesungguhnya aku akan bekerja (pula), maka kelak kamu akan mengetahui.”
Allah tidak akan menyusahkan hamba-hambanya baik yang fisiknya normal maupun tidak. Allah memerintahkan hambanya bekerja sesuai dengan kondisi dan keahliannya masing-masing. Akan tetapi Allah memberikan penghargaan kepada orang-orang yang mau bekerja, berusaha, berilmu (dengan usahanya) hingga membawanya pada profesionalisme tertentu. QS. Mujadillah : 11
Dalam hal ini, sesuai dengan tuntutan perkembangan zaman, spesialisasi keahlian/pekerjaan memang sangat dibutuhkan. Fokus pada bidang tertentu akan memberikan nilai tambah pada kredibilitas seseorang. Nabi Muhammad saw. mengingatkan,
“Apabila kamu menyerahkan  suatu urusan kepada yang bukan ahlinya, maka tunggulah kehancurannya.”
3.  Membangun network
Kunci keberhasilan lebah yang lain diantaranya, dikarenakan network yang baik yang bersinergi. Network dapat dibangun melalui silaturahiim. Rasulullah saw. bersabda :
“…silaturahiim dapat membawa rezeki dan memanjangkan umur.”
Dewasa ini,  prinsip network dianggap sebagai kerja  cerdas yang banyak dibangun dan dikembangkan oleh pelaku-pelaku MLM (Multi Level Marketing). 
Khusus dalam hal ini memang ada MLM-MLM yang tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip nilai Islam, tetapi ada juga MLM-MLM yang tidak sesuai atau bertentangan. Dalam hal MLM membutuhkan pencermatan tersendiri ?
 4.  Tidak mencampuradukkan pekerjaan yang baik dengan yang buruk.
Prinsip kerja lebah yang lainnya adalah tidak mencampur adukkan antara yang baik dengan yang buruk. Lebah hanya mengambil yang baik-baik saja. Dan menghasilkan suatu yang bermanfaat. Adalah suatu dosa mencampuradukan pekerjaan yang baik dengan yang buruk. QS. At-Taubah : 102
5.  Mempertahankan Harga Diri.
Lebah tidak mau mengganggu, tetapi akan bereaksi mempertahankan harga dirinya bila ada yang berani mengganggunya. Hal ini penggambaran betapa lebah mengetahui hak-hak dan kewajibannya.
Kiranya tidakkah kita mau mengambil pelajaran dari semua itu ?
Wallaahu’alam


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Sukkron